Dunia olahraga profesional sering kali hanya memperlihatkan gemerlap panggung dan tepuk tangan penonton, namun di balik itu semua, terdapat perjuangan keluarga yang luar biasa sunyi. Momen emosional pecah di sebuah pusat pelatihan basket ketika hasil akhir pengumuman pemain baru dirilis. Kejadian tangis haru ibu menjadi pemandangan yang sangat menyentuh hati bagi siapa pun yang menyaksikannya. Hal ini terjadi tepat saat anak Serang yang telah berlatih tanpa kenal lelah selama bertahun-tahun dinyatakan tembus seleksi pro dan resmi bergabung dengan salah satu klub elit di liga nasional. Peristiwa ini bukan hanya tentang karier seorang atlet, melainkan tentang pengorbanan sebuah keluarga yang akhirnya membuahkan hasil manis.
Bagi pemuda asal Banten ini, perjalanan menuju level profesional dipenuhi dengan kerikil tajam. Ia memulai langkahnya dari lapangan semen di sudut kota Serang dengan fasilitas seadanya. Sang ibu, yang bekerja keras demi menyokong kebutuhan nutrisi dan perlengkapan tanding anaknya, selalu menjadi pendukung nomor satu di pinggir lapangan. Kemenangan dalam seleksi ini merupakan jawaban atas doa-doa panjang dan kerja keras yang tidak pernah putus. Sang ibu tidak mampu membendung air matanya ketika nama putranya disebut, menyadari bahwa kehidupan mereka kini akan berubah melalui jalur prestasi olahraga yang prestisius.
Proses seleksi profesional sendiri dikenal sangat kejam dan kompetitif. Dari ribuan peserta yang mendaftar, hanya segelintir yang memiliki kombinasi fisik, teknik, dan mentalitas yang sesuai dengan standar liga. Selama masa seleksi, sang anak harus membuktikan bahwa ia memiliki ketangguhan luar biasa untuk bersaing dengan pemain dari kota-kota besar yang memiliki fasilitas lebih mewah. Keberhasilannya membuktikan bahwa bakat dari daerah seperti Serang memiliki kualitas yang setara, bahkan lebih, jika diberikan kesempatan yang sama. Keberhasilan ini menjadi simbol harapan bagi anak-anak muda lain di wilayah Banten bahwa mimpi besar bisa diraih dari mana saja.
Pihak klub yang memilihnya menyatakan bahwa karakter dan disiplin atlet ini adalah nilai jual utama. Mereka melihat bagaimana sang anak tetap rendah hati meskipun memiliki kemampuan di atas rata-rata rekan sebayanya. Pengaruh didikan orang tua, terutama sang ibu, terlihat jelas dalam etos kerjanya di lapangan.